Foto: viva
Oleh indri
JAKARTA, (13/8/2017). Pasca ditetapkan sebagai tersangka atas penggelapan dana umroh, sejumlah aset milik Anniesa hasibuan, salah satu pemilik firts travel, kini menjadi sorotan, termasuk sebuah butik busana mewah yang ternyata sudah cukup lama tidak lagi beroperasi.
Namun, barang-barang dekorasi dan dekoratif nya yang memenuhi ruang pamer masih tertata rapi di dalam ruangan, namun tidak tampak satu orang pun karyawan yang biasa nya sibuk melayanin konsumen.
Di bangunan butik ini pula, Anniesa Hasibuan dan sang suami mengadakan berbagai pertemuan dengan sejumlah calon jemaah.
Namun, aset berupa bangunan 2 lantai ini belum di pastikan untuk menjadi jaminan, untuk membayar kerugian calon jamaah haji, meski nilai ekonominya terbilang cukup tinggi.
Ke dua tersangka, sekaligus pemilik first travel, terkena tuduhan penggelapan dana, karena diduga menggunakan dana money game ponzi.
Mayoritas calon jamaah tergiur dengan biaya miring yang ditawarkan yaitu sekitar 14,3 juta rupiah, untuk ibadah Umroh, jauh lebih murah dibanding dengan biaya normal yang berada di kisaran 22 juta rupiah.
Skema ponzi, yang pertama dicetuskan starla ponzi, pada tahun 1920, merupakan skema ponzi palsu, biasanya skema ini dijalankan dengan mengiming-imingi Investor baru, dengan keuntungan besar dalam jangka pendek.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menemukan mekanisme yang serupa dalam mesin bisnis first Travel Anugrah karya wisata, alias first travel.
first travel, menawarkan ibadah umroh dengan harga sangat murah, dengan perhitungan kekurangan dananya akan ditutupi oleh jamaah lain yang masuk belakangan, dengan modus Gali Lobang Tutup Lobang untuk melancarkan sistem ini.

No comments